article / Building / Mini Bunker: Rumah untuk Pasangan dengan Budget Terbatas
25 Mei 2017 1K Views

Mini Bunker: Rumah untuk Pasangan dengan Budget Terbatas

Arsitek Portugis bernama Jose Carlos Nunes de Oliveira dari studio NOARQ, dimintai tolong oleh klien untuk mendesainkan rumah di lahan seluas 160 meter persegi dengan biaya sekitar €80,000. Namun sang arsitek pun mengatakan bahwa hal tersebut tidak mungkin dan menaikkan budget biaya menjadi €100,000. 

Rumah yang berlokasi di Matosinhos, sebuah kota daerah pesisir pantai diluar Porto ini diberi nama Mami House. Rumah dua tingkat ini didesain simple dan berbentuk seperti sebuah kubus. Sedangkan lahan rumah ini berbentuk seperti potongan pizza.

Rumah sederhana ini menggunakan layout rumah yang terbuka dimana sebisa mungkin tidak banyak menggunakan partisi di dalamnya. Untuk meminimalkan biayanya, penyelasaian rumah ini dibuat sesimple mungkin. Termasuk dengan dinding beton ekspos tanpa finishing, ditambah dengan penggunaan material kayu.

Pada lantai dasar rumah, terdapat ruang bersama seperti dapur, ruang makan, ruang tamu yang sekaligus menjadi ruang keluarga. Kubus kayu ditengah ruangan menjadi satu-satunya pembatas partisi dalam ruangan. Di dalam kubusan tersebut terdapat kamar mandi, rak buku dan televisi, rak penyimpanan dapur, serta tangga menuju ke lantai atas. 

 

Sedangkan pada lantai atasnya terdapat tiga kamar tidur yang lantainya didesain dari material kayu sehingga memberikan kesan ruang yang nyaman. Jendelanya yang besar setinggi ruangan didesain agar cahaya dapat masuk ke dalam ruangan semaksimal mungkin. Selain itu juga akan menonjolkan elemen-elemen desain dari luar rumah.

 

Tangga kayu yang didesain built-in tersebut memisahkan ruang dapur dan ruang keluarga pada lantai dasar. Sedangkan tangga ini memisahkan ruang tidur utama dengan dua kamar tidur lainnya yang lebih kecil. Desain yang dibuat dari material kayu ini memberikan kekontrasan dengan dinding betonnya. Memberikan kehangatan di tengah suasana dingin yang ditimbulkan oleh warna beton ekspos. 

Meski masih satu konsep, desain lantai dasar dan atas terlihat sekali saling berbanding terbalik. Jika di lantai dasar memang penuh dengan material beton ekspos baik dari dinding dan lantainya, tidak begitu dengan lantai atasnya. Pada lantai atas, pelingkup lantai terbuat dari kayu dan dinding-dindingnya tidak sekedar beton ekspos namun juga pelingkup furniture berwarna putih. Tidak seperti lantai dasar yang memberikan warna kayu pada furniture-nya.

 

Demi memberikan kenyamanan dengan biaya terbatas, sang arsitek lebih memilih menginvestasikan biaya ke penerapan efisiensi energi pada bangunan daripada finishing pelingkup rumah. Arsitek sendiri membayangkan rumah ini tampak seperti mini bunker dan menerapkan material beton alami di luar dan dalam rumah sehingga material tersebut dapat menjadi komponen sistem insulasi panas dari luar ke dalam bangunan.

 

Agar rumah tidak memiliki imej yang terkesan murah, arsitek mendesain jendela yang besar pada beberapa bagian di rumah. Seperti pada ruang tamu, dapur, dan kamar tidur. Pintu kaca pun juga menjadi salah satu pilihan sang arsitek sehingga rumah tidak terkesan tertutup dan dapat memperlihatkan keunikan di dalamnya.

Di rumah ini pun juga terdapat area basement yang digunakan sebagai ruang penyimpanan. Pada bagian outdoor rumah pun dilengkapi dengan taman terbuka yang mengelilingi rumah.

Sumber: Mini Bunker house

Sarah Dwi Putri
A dreamer | Art | Travel | Architecture | Writer | Filmaker

LEAVE A COMMENT


Comment


invisible hit counter