article / Building / Sujiva Living: Memadukan Prinsip Arsitektural Bali ke dalam Balutan Rumah Modern Kontemporer
10 Oktober 2019 3K Views

Sujiva Living: Memadukan Prinsip Arsitektural Bali ke dalam Balutan Rumah Modern Kontemporer

Rumah hunian yang di desain di Denpasar Selatan ini memiliki area seluas 372 meter persegi. Didesain oleh Somia Design Studio, rumah bernama sujiva ini memiliki arti kehidupan yang nyaman. Desainnya terinspirasi dan dipengaruhi oleh prinsip rumah Bali yaitu Asta Kosala Kosali dan gaya arsitektur kontemporer tropis.

Asta kosala kosali merupakan fengshui ala Bali dimana terdapat sebuah tata cara, tata letak, dan tata bangunan untuk tempat tinggal dan bangunan suci. Cara pengaturan tradisional ala Bali ini berdasarkan dengan Nawa Sanga yaitu Sembilan arah cardinal disekitar pusat dan adanya garis imajinari antara gunung-laut dan matahari terbit-tenggelam yang kemudian membagi site menjadi Sembilan bagian area yang memiliki fungsi beragam.

The Sanggah Kemulan menjadi area yang paling suci untuk berdoa dan diletakkan di area timur laut yaitu searah gunung. Sedangkan Aling-aling atau biasa dikenal dengan pintu masuk diletakkan di arah selatan searah dengan laut dimana menjadi tempat yang dianggap paling kotor. Tentunya garis axis utara-selatan yang dimaksud ini akan berbeda di setiap area Bali. Hal ini dikarenakan pusat dari area suci yang dianggap utara merupakan sebuah gunung Agung yang berlokasi di bagian timur pada pulau Bali.

Namun untuk rumah yang terdiri dari beberapa massa bangunan tentu akan sulit melihat prinsip desain tersebut dalam desainnya. Pengimplementasian prinsip asta kosala kosali ini tentunya diterapkan dengan cara yang beragam. Misalnya saja seperti perletakkan area pura di timur dan pagar masuk di selatan, meskipun arah pintu utama berada di bagian barat. Hal ini dilakukan karena adanya prinsip di Bali tersebut dan tentunya melambangkan kepercayaan local di area tersebut.


Untuk hal yang berhubungan dengan iklim tropis, bangunan dikonfigurasikan dengan gaya dan detail arsitektural ala modern kontemporer.  Dimana massa bangunan saling berkonfigurasi dengan sederhana dan mengganti ornament yang biasanya ada di gaya arsitektural tradisional Bali menjadi pemilihan material yang tepat. Hal ini akan meminimalkan biaya untuk konstruksi dan juga pemeliharaan.

Bangunan rumah ini ternyata tidak sekedar menjadi rumah saja, namun juga dimanfaatkan sebagai kantor studio arsitektur. Pentingnya mengetahui apa pekerjaan klien akan membantu dalam mendesain rumah. Kombinasi dari rumah dan kantor membuat sang arsitek perlu mendesain rumah yang memberikan pengalaman ruang yang sesuai.

Rasio area yang terbangun dengan ruang hijau adalah 40:60 sehingga hubungan antara indoor dan outdoor perlu diperhatikan. Rasio tersebut juga diterapkan pada zona public dan privat pada bangunan. Dimana zona publik berupa area kantor dan privat merupakan area tinggal klien. Dinding pembatas dibuat untuk didesain untuk menunjukkan batas yang jelas antara ruang yang memiliki fungsi berbeda.


Studio konsultan arsitektur di desain dengan kapasitas 8 orang di bawah komando klien. Suasana yang diberikan pada studio adalah friendly dan juga hangat serta didukung dengan nuansa kreativitas untuk menghasilkan ide-ide cemerlang. Tentu saja karyawan dapat bekerja di area sekitar rumah tidak harus di dalam studio untuk menghasilkan ide di dunia arsitektural. Ruang rapat di desain disebelahnya dengan memberikan pemandangan taman dan area deck.

Tanah di sekitar rumah ini ditutupi dengan kerikil, disertai dengan deretan dek kayu dengan bangku yang difungsikan sebagai tempat berkumpul di outdoor. Landscape yang terasa luas memberikan kelegaan pada orang-orang yang berada di dalamnya.


Untuk interior di dalam rumah ini bisa dibilang ergonomic. Rumah dilengkapi dengan pelingkup kaca dengan frame timber hitam. Hal ini akan memudahkan orang untuk melihat kedalam dan luar rumah serta memperlihatkan berbagai pengalaman di setiap sudutnya. Pada ruang tengah terbuka difungsikan sebagai area berkumpul keluarga dan ruang makan. Batu bata merah di bagian dinding pun membuat mood di dalam ruangan lebih hangat.

Kamar tidur utama berada di bagian timur, tepat di sebelah taman berumput, sehingga klien dan istrinya mendapatkan pemandangan yang indah dari taman dan cahaya matahari pun masuk ke dalam kamar. Di dalam kamar pun terdapat kamar mandi utama dimana area kloset dan shower dipisahkan dengan diletakkan bersebrangan dan diberikan dinding di antaranya. Dilengkapi dengan wastafel di bagian depannya.

Sedangkan di lantai atas terdapat dua kamar tidur dengan fasilitas kamar mandi bersama dan ruang keluarga di tengah sebagai tempat berkumpul anak-anak.

Penggunaan material di rumah ini mengambil tiga macam warna finishing. Untuk aksen, diambil warna merah dari batu bata ekspos. Material tersebut juga merupakan material local yang memberikan kesan natural dan sering digunakan pada bangunan tradisional. Lalu untuk memberikan warna kontras di ambil warna hitam yang juga memberikan kesan elegan dan maskulin. Warna yang terakhir yaitu warna semen ekspos yaitu abu-abu untuk menjadi penyeimbang warna pada perpaduan bata dan warna hitam.

sumber: Sujiva Living

LEAVE A COMMENT


Comment


invisible hit counter