article / Building / Mengagumkan! Para Arsitek Terkenal Ini Tidak Menempuh Pendidikan Arsitektural Namun Hasil Desainnya Benar-Benar Memukau
07 September 2017 186 Views

Mengagumkan! Para Arsitek Terkenal Ini Tidak Menempuh Pendidikan Arsitektural Namun Hasil Desainnya Benar-Benar Memukau

Gagal dalam ujian tentunya membuatmu merasa khawatir, sedih, dan juga terpuruk. Namun bahasan satu ini tentu bisa menjadi motivasi dan penyemangatmu untuk berusaha lebih baik lagi dalam kehidupan. Sembilan orang arsitek ini menjadi arsitek terkenal dengan desain bangunannya yang menarik, tentunya banyak orang tidak memungkiri hal tersebut. Akan tetapi siapa yang menyangka bahwa para arsitek tersebut ternyata malah berhasil tanpa mengambil pendidikan arsitektur bertahun-tahun. Berikut adalah daftar kesembilan arsitek tersebut.

1. Frank Lloyd Wright

 

Guggenheim Museum

Pria satu ini disebut sebagai arsitek Amerika terhebat sepanjang masa oleh Institut Arsitek Amerika di tahun 1991. Salah satu karya hebatnya yang terkenal adalah Falling Water. Uniknya arsitek yang punya label terbaik ini tidak menempuh pendidikan arsitektural meskipun mendapat gelar doktor di sekolah seni rupanya. Pada saat menempuh pendidikan bidang ilmu keteknikan sipil di Universitas Wisconsin, Madison, Wright di DO dikarenakan kondisi keluarga dan sistem pendidikan yang mengecewakan di tahun 1956. Setelah dikeluarkan tentunya beliau mencari pengalaman di dunia kerja nyata dengan menjadi asisten dari arsitek J.L. Silsbee. Selagi menjadi asistennya, Wright juga mengambil kesempatan dengan melamar pekerjaan di Adler & Sullivan yang kemudian menjadikannya berpengalaman selama 6 tahun bekerja di biro ternama. Louis Sullivan merupakan mentor Wright dalam dunia arsitektur sebelum akhirnya dia membuka bironya sendiri di tahun 1893. Tentunya lika liku karir Wright diwarnai oleh skandal dan tragedi namun kontribusinya untuk arsitektur Amerika sangat terkenang sepanjang masa.

2. Louis Sullivan

sullivan center

Sullivan memperkenalkan salah satu frase kata yang diikuti oleh para arsitek hingga sekarang yaitu "form follow function" yang berarti bentuk mengikuti fungsi. Dikenal sebagai father of skyscrapper berbagai karyanya memang berupa bangunan berlantai banyak dan tinggi. Sullivan lulus dari sekolah menengahnya dan masuk ke MIT saat berumur 16 tahun di tahun 1872. Namun ketidaksabarannya membuat dirinya memilih untuk keluar diakhir tahun dan menjadi anak didik dari arsitek Frank Furness di Philadelphia dan juga arsitek-engineer William Le Baron Jenney yang merupakan sosok terkemuka di Chicago School of Architecture. Tahun 1875 ia pun mulai bekerja sebagai juru gambar di berbagai biro dan kemudian menjadi partner Dankmar Adler di tahun 1879. Sullivan juga terkenal dengan desain ornamen pada bangunaan yang terbilang cantik.

3. Le Corbusier

Villa Savoye

Arsitek dan urban planner asal Swiss satu ini dulunya mengikuti jejak ayahnya mempelajari tentang perdagangan dan ukiran. Pada umur 15, ia bersekolah di École des Arts Décoratifs di Swiss yang 3 tahun kemudian guru seninya menyadari bakat Le Corbusier dan menyarankan untuk menjadi seorang arsitek dan juga membantu Corbusier dalam mengerjakan proyek lokal pertamanya. Corbusier pun mulai berkelana ke berbagai kota di Eropa seperti Athena, Venice, Vienna, dan Munich pada tahun 1907 hingga 1911. Di berbagai daerah itu, dirinya tidak hanya sekedar bersantai saja namun bekerja dan belajar di berbagai kantor arsitektural di kota-kota tersebut. Dirinya kembali ke kota asal pada tahun 1912 dan mengajar bersama mentornya yang kemudian membuka biro arsitekturnya sendiri sebelum pindah ke Paris di tahun 1917.

4. Mies Van Der Rohe

Farnsworth House

Satu lagi arsitek yang juga dikenal dengan frase katanya yang mendunia yaitu "Less is More". Tumbuh di keluarga perajin batu di Aachen, Jerman tentu membuatnya hanya memiliki kesempatan kecil untuk menempuh pendidikan formal. Sebagai salah satu anak magang sebagai tukang batu bata, Mies juga bekerja di Aachen Arsitek menggambar outline untuk ornament arsitektural. Tentunya pekerjaan itu yang membuat skill menggambar dan draftingnya meningkat. Ia kemudian pindah ke Berlin tahun 1905 untuk bekerja pada seorang arsitek yang kemudian ia meninggalkan pekerjaan untuk magang pada Bruno Paul yang merupakan desainer furniture ternama pada masa itu. Karya pertamanya yaitu Riehl House di tahun 1907 membuatnya dilirik oleh Peter Behrens yang menawarkan Mies untuk bekerja di kantornya. Empat tahun bekerja bersama Behrens tentunya membuat skillnya makin berkembang dan dapat memadukan seni dan teknologi. Tahun 1912, Mies meninggalkan kantor Behren dan membuat bironya sendiri yang sukses mendapatkan berbagai permintaan untuk rumah privat para elit Berlin.

5. Tadao Ando

Poly Grand Theater

Arsitek terkenal asal negeri Sakura ini merupakan mantan petinju professional di Osaka, Jepang. Kemudian ia pun belajar keteknikan dengan guru matematika dan juga pengrajin kayu lokal yang membuatnya makin tertarik dengan dunia arsitektur. Kedua elemen tersebut merupakan point awalannya memulai bidang arsitektural. Ando yang tidak bisa menempuh pendidikan di universitas, mulai belajar tentang arsitektural secara otodidak dengan membaca buku, mengikuti kelas malam, mengunjungi bangunan-bangunan di Jepang dan luar negeri untuk dipelajari. Ando pun sudah sering mendesain interior di beberapa kafe area Kansai. Tahun 1969 diumur 28 tahun, dirinya mendirikan biro arsitek yaitu Tadao Ando Architects & Associates di Osaka. Bironya pun sering mendapat pesanan desain rumah tinggal. Ia pun dikenal sebagai gaya arsitektur bentuk geometris dengan beton ekspos tanpa finishing. Berbagai karyanya pun mulai tersebar tidak hanya rumah tinggal namun juga tempat ibadah di Jepang seperti water temple dan church of light. Ando pun juga melebarkan sayapnya dengan mendesain bangunan di luar Jepang seperti Poly Grand Theater di Shanghai, Hansol Museum di Korea Selatan, dan beberapa bangunan lainnya.

6. Buckminster Fuller

The Montreal Biosphère

Salah satu tokoh yang dikenal sebagai orang yang memiliki pemikiran hebat yaitu Buckminster Fuller memang memiliki masa yang cukup sulit berkaitan dengan pendidikan formal. Pria yang terkenal dengan desain dome godesic ini sudah dua kali dikeluarkan dari Universitas Harvard. Dirinya sendiri pun mengakui bahwa memang pada masa itu merupakan masa sulit untuknya. Ayahnya meninggal saat usianya masih muda sehingga ketika ia berkuliah di Harvard tidak banyak sokongan yang bisa membantunya memenuhi aktivitas di universitas. Seperti adanya kelas sosial yang terlihat di dunia perkuliahan itu, Fuller menjadi makin sering bolos, bermalas-malasan hingga akhirnya dikeluarkan. Meskipun mendapat kesempatan kedua, lagi-lagi fuller berulah dan kembali dikeluarkan dari Harvard untuk kedua kalinya. Namun diluar itu ia bekerja sangat keras hingga akhirnya bisa menjadi arsitek terkemuka yang diingat hingga kini dengan ciri khas kubah geodesicnya.

Sarah Dwi Putri
A dreamer | Art | Travel | Architecture | Writer | Filmaker

LEAVE A COMMENT


Comment